Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Tuesday, March 20, 2012

Bulutangkis, I will always Love You!


Beberapa hari yang lalu si ayah mengajak saya berlatih tenis. Tenis? Ngapain? Nggak ah, saya lari saja lucu, apalagi olehraga pertandingan macam begitu? Saya yakin saya bahkan nggak bakal lulus sedari pelajaran basic: cara memegang raket tenis! Hahaha.

Lagian tenis itu kurang seru. Baru seru kalau yang main Nadal, selain itu, coret! Hahaha. Saya suka style cueknya. Dan saya selalu menunggu2 ritualnya setiap menjelang servis: pegang kuping kanan, kuping kiri, terus pegang pantatnya, hahaha!

Kenapa kurang seru? Pertama saya nggak ngerti sistem skornya. Bahkan nggak mau repot2 untuk ngerti. Kedua saya pusing nontonnya. Saya pernah diajak si ayah nonton dia main tenis. Pertama saya tonton dari samping. Baru beberapa menit leher saya pegal karena terus mengikuti bola yang mendesing lurus secepat kilat bolak balik. Oke saya tonton dari belakang. Ugh, ternyata nggak asik juga. Bosen. Nggak ada serunya. Mereka bahkan nggak keringetan. Hahaha. Akhirnya saya memilih blogwalking daripada nonton mereka.

Daripada tenis, jelas saya lebih suka bulutangkis. Mungkin bisa ada penjelasan yang menarik dari sisi kepribadian disini. Siapa sih yang nggak suka nonton bulutangkis di Indonesia? Saya rasa nggak ada. Pertama saya nggak pusing nontonnya, adrenalin malah terpacu, padahal cuman nonton. Pertama karena lop2 bola yang mendebarkan, kedua smash2 hebat yang menggetarkan. Pemainnya keringetan. Lari kesana kemari dengan gerakan indah dan tangkas. Berjuang poin demi poin, hati2 mengatur strategi untuk dua-lima langkah ke depan.

Yang disayangkan cuman satu, sistem skornya sekarang sangat mengecewakan. Kalo kata si ayah, yang dulu suka main bulu tangkis juga, sistem skor itu adalah usulan dari pemain2 Eropa yang manja karena kalah mulu dari pejuang2 hebat Asia, khususnya Indonesia. Saya penasaran bagaimana perdebatan di IBF dulunya, sampai akhirnya tercipta sistem skor sialan sekarang. Masak sih cabang2 IBF di Asia bisa kalah debat dari Eropa sana? Atau apa suara mereka juga mendukung sistem skor yang sekarang? Katanya sih bahkan China mendukung sistem yang baru. F**k! Katanya cuman Indonesia yang keras2an mempertahankan sistem skor lama. Tentu saja kalah, karena atas nama demokrasi sialan, dimana suara terbanyak adalah suara rakyat, maka sistem skor elegan itu mesti kalah.

Sistem skor kapitalis. Mengeruk keuntungan poin demi poin bukan dari perjuangan sendiri, tapi dari kesalahan lawan? Bah! Itu jelas sistem rakus, pokoknya bagaimana caranya mengeruk untung sebesar2nya dengan memaksimalkan segala sisi, bahkan sisi kelemahan lawan. Jadi dimana sikap sportif elegan yang membanggakan, yang lahir dari perjuangan mencapai poin demi poin, yang ampun betapa hal itu memberikan pertunjukan terhebat sepanjang masa.

Betapa semua orang tak akan lupa saat Peter Gade, pemain Denmark, saya lupa waktu All England atau Olimpiade ya,  dimana ia sudah kalah poin jauh sekali, tapi masih bisa mengejar skor dan akhirnya menang? Oh Gosh, betapa tidak hal itu menularkan sikap penuh perjuangan? Atau Ardy B Wiranata yang pernah di posisi sama? Pantas saja Susi Susanti tak ingin melatih seorang pun pemain bulutangkis Indonesia, karena menurutnya pemain sekarang KURANG punya semangat juang. Jelas saja! Karena mereka dibesarkan oleh sistem sialan yang mereka bahkan nggak menyadari sudah dibodohi dan diracuni.

Saya kadang bingung. Kenapa sih Indonesia mesti tergantung sama perkumpulan2 olahraga internasional? Lama2 saya sebel juga menghadapi mereka. Ini baru IBF. Belum lagi FIFA yang hanya diam teserah Indonesia bagaimana menangani sendiri kemelut bolanya. Kenapa sih FIFA nggak keluarin pernyataan saja, membolehkan entah itu ISL kek, IPL kek, intinya adalah semuanya bertujuan meramaikan dunia bola Indonesia, membuat bola Indonesia bisa bangkit lagi. Mungkin itulah maksud organisasi2 sialan itu. Membuat Indonesia nggak bisa lagi hebat di bidang apapun. Entah itu bulu tangkis, bola. Atau kalo mau dilihat dari sisi parnonya, Indonesia bahkan diserang dari segala lini. Dari olahraga oleh organisasi2 internasionalnya, sumber daya alam oleh investasi raksasanya, generasi muda oleh narkobanya, sampai sistem politik begok yang ngapain sih mereka menerapkan demokrasi Barat? Bukannya sudah ada demokrasi Pancasila? Dimana solusi diperoleh bukan dari suara terbanyak, tapi dari hasil musyawarah dan mufakat??? Pertama hapus sistem partai. Isilah DPR hanya untuk orang2 pintar yang dipilih oleh rakyat, bukan karena ia mencalonkan diri. Online ajah. Masing2 propinsi ajukan orang. Terus presiden juga pilih langsung. Mungkin seperti waktu semua orang Indonesia memilih Soekarno. Gimana sih caranya waktu itu? Hebat tuh. Sementara Menteri ambil yang dari karir. Supaya menterinya ngerti apa yang harus dilakukan. Bukannya belajar dulu atau langsung embat anggaran ini itu. Jadi semua adalah hasil musyawarah mufakat, sekali lagi bukan suara terbanyak.

Aiiih aiiih….. Indonesiaku tersayang, bulutangkisku tercinta, padahal awalnya saya pengen cerita bagaimana hebohnya saya saat pertama kali ikut klub bulutangkis. Hahaha. Sebelumnya saya nggak pernah sekalipun main bulutangkis. Saya cukup suka nonton di tipi sampai mabok. Nah, pas saya ditempatkan di tanah Borneo, sekitar delapan tahun yang lalu, saya nggak punya teman. Saya masih meraba2 cara gaul orang2 lokal, apaan yak, ternyata mereka punya klub bulutangkis yang sangat aktf. Jadilah dengan semangat saya daftar, langsung beli raketnya, yang ternyata mahal sekitar 400rb, gagang titanium, katanya sih nggak gampang patah, warnanya hijau pupus, dengan lugunya saya beli. Saya lupa mereknya. Ternyata itu merek lumayan terkenal. Karena beberapa pemain langsung ngiler liat raket saya. Terus saya juga beli sepatu olahraga. Salah beli lagi. Yang saya pilih malah sepatu kanvas yang buat jalan2, hahaha. Jelas berat buat melangkah atau lari. Tapi saya cuek. Toh fungsinya jadi bisa dua: jalan2 dan olahraga. Hahaha.

Beberapa kali latihan ternyata tidak berhasil membuat saya tertarik menjadi pemain. Rasanya cukuplah takdir saya menjadi penonton yang bersemangat. Hahaha. Saya bahkan nggak bisa memperbaiki pegangan tangannya. Males ngejer bola. Nggak bisa2 smash. Cuman bisa lop2an dengan gaya membosankan. Hahaha. Cuman cari keringat. Ya udah, ketemu bulan puasa, langsung aja deh berhenti, hehehe. Cuman saya tetap semangat nonton. Yah, gitu deh, saking semangatnya, sampe akhirnya berhasil juga saya menggaet salah satu diantara mereka untuk menjadi suami, hehehe! Pokoknya, Bulutangkis, I will always love you deh!

Friday, December 2, 2011

Nemu Harta Karun

Yang pasti, yang nemu bukan saya hehehe. Ibu saya pernah bercerita, saat suatu kali beliau bertemu dengan pembeli rumah pertama kami di Cirebon, kami sudah pindah ke Bekasi, si pembeli mengaku telah menemukan harta karun dua karung besar di loteng rumah. Ibu sangat terkejut karena merasa tidak punya harta karun apa-apa, apalagi pake disimpen di loteng segala. Si pembeli tertawa dan bilang bahwa itu isinya buku semua, anaknya benar2 kegirangan mendapat hadiah segitu banyak. Ia bahkan bertanya bolehkah menyimpan harta karun itu. Ibu saya yang baik hati tentu membolehkan.

Satu-satunya yang sedikit kesal dengan cerita ibu adalah saya. Betul kata si pembeli, bahwa itu adalah harta karun. Majalah Bobo periode dua tahun. Saya waktu itu masih kelas 2 SD dan nggak tahu kenapa majalah2 itu menghilang setelah pindahan. Satu-satunya tersangka adalah bapak, karena bapak tipe yang nggak mau repot, pasti beliau yang menyembunyikannya di loteng sebelum saya sadar dan memaksa membawa semua  bundelan itu.

Mungkin kami memang sedikit beruntung dibanding anak-anak kecil lain waktu itu, tapi saya pikir nggak juga. Karena Bapak hanya bersedia berlangganan Majalah Bobo dan kami sama sekali tidak tahu apa itu Lima Sekawan, Trio Detektif, Hans Christian Andersen, Enid Blyton, Agatha Christie, dsb. Kami juga nggak pernah diajak jalan-jalan ke toko buku. Perpustakaan sekolah pun isinya hanya buku-buku jadul macam Layar Terkembang, Siti Nurbaya yang saya nggak suka, atau Majalah si Kuncung yang merupakan majalah langganan perpustakaan. Acara tivi masih terbatas, sementara kami lumayan tidak boleh keluyuran kemana-mana meski bersama teman sekolah. Informasi benar-benar terbatas. Sangat tidak menggairahkan.

Hingga saya pertama kali masuk SMP. Bapak memberi hadiah jalan-jalan ke Gramedia dan boleh memilih satu buku apa saja. Wuih, pengalaman itu begitu membekas. Betapa adrenalin saya terpacu untuk mencari  satu buku terbaik di antara lautan buku yang saya tak tahu, semuanya kelihatan sangat menggoda. Betapa dunia ini luas terbentang dan yang saya tahu hanyalah Majalah Bobo. Setelah pergulatan cukup lama, yang saya pilih akhirnya adalah sebuah buku tebal berwarna hijau pupus, dengan cover bayangan seorang pria bertopi dan cerutu di mulutnya. The Return of Sherlock Holmes. Definitely my beloved first book. Suatu hari saya akan membahasnya secara khusus di sini.

Pengalaman itu nyaris seperti trauma. Bahwa saya bertekad untuk tidak mengulangi kealpaan Bapak. Membawa anaknya ke toko buku baru pada usia sedewasa itu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada Ozza. Saya bahkan memilihkan buku pertamanya sebelum ia sempat bisa. Hehehe. Saat itu ia berusia enam bulan. Sudah bisa duduk dan menikmati dongeng. Serial Mengenal Binatang karya Sterling adalah buku pertamanya. Ia sangat menyukainya. Hasilnya kata pertamanya adalah ku-da. Bukan ibu, mama atau ayah. Hihihi.

Buku-buku berikutnya tetap saya yang memilihkan hingga tiba saatnya Ozza TK Besar. Setiap ke toko buku, ia membuka-buka buku, menimbang-nimbang mana yang ia pilih dengan sangat percaya diri. Kesukaannya adalah buku-buku yang aneh, yang ada mainannya. Entah itu pop-up book, buku bersenter, atau buku ajaib lainnya yang saya bahkan heran kok ada penulis sekreatif itu. Sementara Naula meski belum sekolah, ia ingin kelihatan sudah besar seperti kakaknya. Jadi ia juga sering memilih sendiri bukunya. Kesukaannya adalah buku-buku yang cantik atau buku yang bercover binatang selembut boneka-bonekanya. Hihihi. Pokoknya saya berikrar: kedua krucil ini akan saya bentuk menjadi monster pemburu harta karun yang rakus, deh! :p

Gaya Lo Indonesia Banget


Barusan gue nemuin postingan secara sengaja di blog seorang teman, Bohemian Style, dan saking bikin gue ngakak2 sampe nangis *lebaaayy*, gue akhirnya nyembah2 dia berharap gue bisa copy paste postingannya juga di blog gue, hahaha! Dasar copycat! Intinya tentang anekdot2 di antara para ekspatriat yang udah kelamaan tinggal di Indonesia, jadi gayanya udah Indonesia banget gitu lohhh. Ada yang dia dengar/baca dari bule2 itu sendiri tapi ada juga yang orisinil dari si pemilik blog bergaya bohemian ini :p. Sori ya repost kalo ada yang udah pernah baca. Berikut cuplikan beberapa diantaranya :
#gayaloudahindonesiabanget :
1) Lo udah mulai tertarik dengerin musik dangdut.
2) Lo udah beranggapan kalo uang sepuluh rebu itu kemahalan buat ngasih tip, dua rebu aja cukuplah.
3) Lo lebih enjoy minum teh botol daripada coca cola.
4) Lo mulai praktekin iklan "Apapun makanannya, minumnya ...."
5) Daripada jalan kaki, lo mendingan cari bajaj atau ojek kalo mau ke minimarket Alfa deket kompleks.
6) Lo percaya sepeda itu kendaraan orang miskin, dan lo pake tuh sepeda hanya tiap hari Minggu waktu car-free-day, terus sepeda yang lo beli juga harus lebih mahal dari motor Yamaha, cuman sekedar ngebuktiin lo bisa beli sepeda kayak gitu.
7) Lo pasang AC ke settingan paling dingin, tapi terus pake jaket atau sweater. Kalo lo cewek mungkin lo pake stoking.
8) Lo udah nggak peduli mau digigit nyamuk kek, nggak kek, anggep aja amal ngasih makan buat nyamuk.
9) Kalo lo jalan kaki di jalan raya, lo ngerasa bego banget, berharap lo duduk di dalam mobil keren yang kecepatannya ngalah2in cheetah, meski mobil lo kejebak macet selama 2 jam.
10) Lo nikmatin banget nyetir santai 2 jam ke kantor, padahal lo bisa nyampe hanya dalam 1,5jam bahkan di hari Senen!
11) Lo percaya harusnya Tukul dapet Pulitzer prize.
12) Lo percaya apapun yang ditulis di Pos Kota.
13) Lo percaya bahwa penyebab flu itu bukan virus, tapi dari masuk angin!
14) Lo percaya flu dan segala penyakit lainnya itu cuman Bodrex obatnya.
15) Lo percaya Bodrex bener2 diproduksi o;eh orang Jerman.
16) Lo menganggap Julia Perez lebih seksi daripada Jennifer Lopez.
17) Lo rela duduk berjam2 di depan tipi ngikutin semua berita infotainment tentang Anang atau Kris Dayanti
18) Lo mulai bisa nangis sesunggukan waktu nonton sinetron Putri Yang Ditukar
19) Lo lebih suka cewek kurus berhidung dan berpayudara plastik, daripada cewek2 yang orisinil.
20) Lo bisa ketawa ngakak waktu nonton acara Tukul atau Opera van Java.
21) Lo bangga banget dipanggil "bule gila".
22) Lo ngerasa menderita banget kalo sendirian, terus nyalain tipi meski lo nggak nonton
23) Mobil lo lebih mahal daripada rumah kontrakan lo.
24) Lo tetep pake jaket wol lo meski cuaca sangat terik, cuman supaya lo kehindar dari debu.
25) Lo masih kelaperan meski lo udah makan banyak, karena lo belum kesentuh nasi dari pagi.

Hehehe, gue yakin ada diantara lo yang bisa lanjutin daftarnya dan makin miris dengan berbagai ironisnya Indonesia di mata mereka "bule gila". Minimal kesentillah rasa nasionalisme kalian. Kenapa sih orang Indonesia culun banget?

Memang sih di daftar tersebut nggak semua kita orang Indonesia begitu2 amat, tapi memang kebanyakan iya, hehehe. Nah, dari sini gue jadi keingetan buku barunya Pandji. Tau kan Pandji? Itu lho penyiar Hard Rock yang akhirnya jadi host terkenal. Perawakannya gede tinggi-chubby-lucu dan punya acara tipi kalo nggak salah judulnya Provocative gitu, kalo nggak salah lagi ya di metro tipi, gue lupa.

Nah, bukunya berjudul Nasional.is.Me. Keren yak judulnya. Gue ngerasa nasional abis, jadi meski gue belom baca bukunya, tuh buku must-have bangetlah jadinya. Tadinya disharing digital secara free di blognya Pandji, gue lupa juga alamatnya dimana *bener2 nggak bisa diandelin!*. Googling ajalah pasti pada bisa kan?? Hehehe. Tapi seperti umumnya orang Indonesia, niat2 baik yang kayak gini malah dimanfaatin, hahaha! Ada beberapa yang ngeprint e-book itu, minta ttd-nya Pandji, terus dijual lagi. Kan emang promosinya cuman via blognya ajah, jadi nggak banyak orang tau kalo tuh buku sebenarnya gretongan. Itu cuman salah satu jeleknya.

Ngeliat kayak gitu tentu aja si Pandji jadi nggak tinggal diam. Dia bikin buku cetaknya, dengan catatan dia tetap pasang niat baiknya: tiap satu buku kita beli, berarti kita nyumbang satu buku buat anak2 di daerah remote/terpencil. Betapa mulia dan praktisnya!

Gue yang jadul dan nggak suka e-book jadi bersyukur deh, akhirnya ada juga versi analognya, hehehe! Tapi gue belom beli, seperti biasanya dijamin buku2 kayak gini belum muncul di Samarinda. Bisa sih pesen di bentangpustaka.com, tapi belom2 juga. Kayaknya gue lebih memilih nunggu momen2 spesial gue nemu tuh buku ada di toko buku, rasanya lebih deg2an *halaaaah* :))

Oke, kembali ke laptop :p Korelasi antara jokes ekspatriat dan buku Nasional.is.Me itu adalah, minimal kita jadi nggak malu sama "bule gila" itu, lha emang ini Indonesia??? Lo tinggal disini, lo cari duit disini ya hargain dong budaya sini meski itu separah Putri Yang Ditukar, hahaha! Gue yakin bule2 gila itu sebenernya cuman iri coz di negara asalnya nggak ada yang seabsurd itu parahnya, hahaha! Yah meski sebenernya gue berharap ada beberapa poin yang kita bisa ubah, tetep aja judulnya harus pede ahh! :p

The World Deadliest Woman


Dulu banget, seorang teman, Mocha, men-tagging saya dalam notes-nya, The World Deadliest Woman. Isinya sungguh menarik. Bercerita tentang seorang wanita Irak, Dr. Rihab Taha, seorang ilmuwan  yang bertugas memimpin program senjata biologi Irak, yang membuatnya menjadi ilmuwan paling berbahaya, hingga dijuluki sebagai Dr. Germ alias Dr. Kuman, dan dianggap sebagai ancaman terbesar setelah perang dingin oleh AS dan sekutunya, dan untuk itu ia harus dilenyapkan dengan taruhan apapun. Inilah salah satu alasan utama mengapa akhirnya AS perang dengan Irak.

Kisahnya berawal pada tahun 1979, saat ia berangkat ke Inggris untuk belajar di bidang plant toxins, tanaman beracun. Ia pun memperoleh gelar PhD di University of East Anglia di Norwich, dimana ia memdalami biologi secara serius dan terfokus pada bidang penularan penyakit. Dia sosok yang sederhana, tak banyak lagak. Sangat pendiam dan pemalu. Bahkan pengajarnya selama 4 tahun, Dr. John Turner, mantan pimpinan jurusan biologi di universitas tersebut mengatakan, “Dari semua mahasiswa yang pernah saya didik, dialah orang terakhir yang saya duga mampu melakukan hal mengerikan semacam itu.”

Sesudah Dr. Taha kembali ke Irak, Saddam Husein langsung memerintahkannya untuk memimpin program pengembangan senjata biologis. Seperti halnya bom atom, senjata ini tentunya sanggup membunuh jutaan manusia tanpa perlu pengetahuan teknis tinggi maupun biaya yang mahal.

Sesuai informasi yang disampaikan mantan pimpinan Tim Pengawas Senjata Biologi Irak di PBB, Richard Spretzel, menurut perkiraan PBB, Dr. Taha telah mengembangkan 8.400 liter anthrax dan berbagai senjata biologis lain. Ia membuat 19.000 liter botulinum, racun yang bisa membuat korbannya mati lemas dengan lidah membengkak. Ia memproduksi 2.000 liter aflatoxin, yang mampu menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan pertumbuhan kanker secara cepat. Ia juga mengembangkan ganggren, yang bisa membuat kulit manusia mencair dan mengelupas.

Tim Pengawas PBB pun menduga bahwa Dr. Taha sengaja menjadikan para tahanan Irak sebagai kelinci percobaan terhadap sejumlah senjata biologis buatannya, untuk mengamati efeknya jika digunakan dalam perang. Karena para tahanan tersebut banyak yang mengalami kebutaan, pendarahan mata, demam Crimen Congo, cacar unta dan penyakit-penyakit mengerikan lainnya, dimana akhirnya mereka mati perlahan-lahan akibat kehilangan darah dari luka-luka terbuka di kulitnya.

Sementara pemerintah Irak sendiri tidak mau diajak bekerja sama. Bahkan setelah diajukan enam laporan berbeda soal bukti-bukti adanya program pengembangan senjata biologis di negaranya, Irak membantah semuanya. Setiap Tim Pengawas Senjata Biologis Irak melakukan penggerebekan di sejumlah tempat yang diduga sebagai laboratoriumnya, setiap kali pula mereka hanya menemukan gudang kosong yang sepertinya baru dibersihkan secara terburu-buru, dengan dokumen-dokumen yang masih terbakar di tempat sampah.

Mengapa Dr. Taha selalu selangkah di depan Tim Pengawas? Karena menurut rumor, ia adalah istri simpanan Letjen Amer Rashid, pejabat militer Irak yang ditugaskan bekerja sama dengan Tim Pengawas. Tak heran bila selama bertahun-tahun Tim Pengawas PBB tak pernah berhasil menemukan bukti keberadaan senjata biologis di Irak.

Bagi saya pribadi, entah apakah cerita ini benar atau tidak. Ada beberapa yang janggal. Pertama, tidak diceritakan bagaimana caranya PBB bisa memperkirakan senjata biologis apa saja yang dikembangkan oleh Dr. Rihab Taha, hingga memastikan seberapa banyak senjata tersebut telah dibuat. Kedua, semuanya hanya berdasarkan perkiraan. Bukti keberadaan senjata biologis tersebut pun tak pernah ditemukan. Ketiga ada sejumlah paragraf yang menceritakan bahwa Tim PBB sempat mengkonfrontasi Dr. Taha dengan bukti-bukti yang kuat dan mengatakan bahwa Dr. Taha bangga dengan apa yang dilakukannya, bahwa ia tak ragu menampilkan diri sebagai otak di balik senjata biologis Irak. Dengan begitu, seharusnya Dr. Taha bisa dikatakan sudah mengakui bahwa ia yang bertanggung jawab. Mengapa dari pengakuan tersebut tidak bisa dikembangkan menuju pembuktian keberadaan senjatanya? Aneh. Dan terakhir, jika memang senjata biologis itu ada, mengapa saat perang Irak-AS terjadi dan diakhiri tertangkapnya Saddam Husein, berbagai senjata biologis tersebut tak pernah digunakan?

Di sisi lain, jika cerita ini benar adanya, bahwa memang ada seorang Dr. Taha yang sanggup membuat berbagai senjata biologis tersebut, dimana dalam notesnya, Mocha mengangkat jempolnya untuk seorang wanita yang dianggap paling berbahaya dan sanggup membuat AS dan Israel sekutunya tak berdaya, karena ia sangat jenius, maka saya tak begitu setuju dengannya. Saya pun langsung menulis komentar bahwa itulah devil sebenarnya, seorang ibu yang sanggup membuat racun mematikan buat bayi2 sama sekali bukanlah tokoh yang layak dikagumi. Nah, satu hal yang akhirnya saya tertarik untuk membahasnya lagi di sini adalah komentar temannya yang lain, berikut saya kutip di sini:

“Mocha.. notenya sungguh menarik.. :) Menghadapi perkembangan persenjataan, bagaimana sikap kaum Muslim, terutama dalam peperangannya melawan musuh? Apakah mereka dibolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut? Allah Swt. telah memerintahkan kita—kaum Muslim—untuk berjihad fi sabilillah. Itu berarti kita wajib melakukan peperangan melawan musuh-musuh kita yang kafir/musyrik dengan menggunakan persenjataan. Sebab, jihad bermakna berperang secara fisik/militer; senjata melawan senjata. Allah Swt. tidak membatasi/menentukan jenis persenjataan tersebut. Jadi, semua jenis senjata yang dapat digunakan untuk berjihad fi sabilillah melawan negara-negara kafir/musyrik dibolehkan. Alasannya, karena nash-nash syariat tidak menentukan atau membatasi jenis persenjataan maupun sarana tertentu yang digunakan untuk memerangi musuh Allah Swt.”

Well well well. Komentar yang sungguh berbahaya, ya kan? Seorang perempuan, memiliki pandangan seperti ini di tengah derasnya trauma serangan teroris dimana-mana. Apakah ia tidak lagi menggunakan logika dan hatinya, hingga sanggup menelan bulat2 semua yang diberikan padanya? Oke, saya bukan ahli agama. Jadi saya tidak mampu untuk mendebatnya dengan nash-nash Al-Qur’an, untuk menyatakan isi kepala saya. Tapi yang saya tahu pasti, Al-Qur’an juga mengajarkan tentang perdamaian, mengajarkan bahwa dalam berperang, wanita dan anak-anak tidak boleh dijadikan korban. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana bertindak sportif, menurut saya. Jadi kalau mereka bersenjatakan modern, mengapa negara muslim tidak bisa mengusahakan yang sama? Tidak dengan berlaku curang membuat senjata biologis yang murah tapi sangat mematikan, tak hanya bagi prajurit yang berperang tapi juga wanita dan anak-anak tak bersalah. Kapasitas saya memang tidak layak, baik untuk membahas perang AS-Irak maupun Israel-Palestina. 

Tapi menurut logika cetek saya, dalam kasus perang AS-Irak, sudah jadi rahasia umum bahwa AS bertujuan menguasai minyak Irak, dengan demikian berusaha melumpuhkan Irak bagaimanapun caranya, termasuk isu senjata biologis tadi. Jadi ini adalah penjajahan di abad modern. Seharusnya ini bisa dicegah dengan tindakan tegas PBB. Mana yang salah, ditindak, dan yang benar dibela. Begitu juga kasus Israel-Palestina. 

Karena PBB sama sekali tidak membantu, sekarang sudah saatnya negara-negara muslim bergerak tidak hanya membicarakan bisnis minyaknya dalam lingkup APEC, atau saling berperang sendiri, tapi benar-benar duduk bersama dan serius memikirkan semua masalah ini, jika mereka memang benar peduli dengan perintah Allah Swt akan keharusan jihad fisabilillah. Karena hanya dengan bersatulah kalian bisa menang. Bagaimana jika kalian bekerja sama dalam bidang pengembangan senjata hingga semodern mereka? Atau bahkan bidang lainnya? Dan untuk kelompok teroris, hanya dengan menjadi pengecut dan menanam bom dimana-mana kalian menyebutnya jihad? Tak bisakah kalian bergerak ke arah yang lebih positif dan berani? Well, jika kalian memang lebih suka diam, tak peduli dan pengecut, tak heran jika AS/Israel yang katanya musuh kalian itu menang dimanapun mereka berada. Kalian bahkan tidak bisa menang atas usaha sendiri, melainkan hanya bisa berharap Imam Mahdi akan turun dan membuat dunia menjadi adil. Ckckck.

The Six Year of Marriage


26 Januari 2011, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-6. Well, well, well, nggak nyangka aja ternyata sudah selama ini. Bahkan udah jauh ngelewatin terrible two, yang kalau dalam ukuran orang Amrik sana, dua tahun pernikahan itu yang jadi titik penting, apakah lanjut atau bercerai. Kalau dipikir2 sih, kok kami berdua bisa ya? Apalagi kalo dipertimbangkan dari kepribadian kami masing-masing. Ugh. Gue yang ampun dah, kaku banget, keras banget, sinis banget, penuh planning, sok ngatur, merasa tahu segala hal, super dominan, sekaligus demokratis abis, fleksibel abis, rendah hati abis, baik hati abis, tulus abis, spontanitas abis, bahkan meski dunia ini memungkinkan didominasi oleh hanya satu orang, gue lebih suka memilih untuk skip aja, coz nilai2 keluarga adalah segalanya bagi gue hehehe. 

Sementara Ivan orang yang sangat fleksibel, santai, sekaligus meremehkan apapun di atas apapun, dan ia percaya semuanya berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan kita. Hah, bukannya itu sama sekali omong kosong? Hal sepenting nasib maupun hal seremeh seperti membeli air minum di warung pertama yang bisa kita temui, seluruhnya ada di tangan kita. Itu adalah upaya, usaha. Mendominasi keseluruhan paket kehidupan. Doa adalah pengiringnya. Bakat dan keberuntungan melengkapinya sedikit, sementara yang membuatnya sempurna adalah takdir Tuhan.

Hahaha, seperti itulah berbanding terbaliknya kami. Tapi analogi mur dan baut ternyata benar2 berjalan dengan baik di sini. Pasangan mur ya pasti baut. Bukan mur dengan mur. Atau baut dengan baut. Jawabannya hanya kompromi. Meski yaaah, memang sih, masih ada beberapa hal yang belum bisa kami kompromikan, tapi lumayanlah. Setidaknya kami saling menghargai masing2 kami apa adanya.

Nah,  sampai di sini, beberapa hari yang lalu seorang teman, ia belum menikah, bertanya, bagaimana sih caranya memastikan bahwa dia adalah seseorang yang tepat? Hmm, bingung juga gue jawabnya. Waktu itu gue cuman tahu begitu aja, bahwa Ivan memang orang yang tepat. Tapi sekarang, setelah mikir dan mikir lagi, sebenarnya memang ada beberapa petunjuk di sana-sini yang gue pakai untuk memilih Ivan.

Pertama adalah buku kecil ketikan Eddie Vedder, berjudul Whom To Marry/Not To Marry, sebagai cover album Pearl Jam ke-3, Vitalogy. Catet ya, bahkan petuah orangtua pun nggak bakalan gue dengerin, tapi yang satu ini, gue bener2 percaya betapa realistisnya hal-hal yang tercantum. Gue pernah bahas sih di postingan sebelumnya, nggak usah lah yaa diulang2 hehehe, pokoknya Eddie berhasil memprovokasi gue jadi seperti ini :
  1. Nggak mudah percaya bahwa ketertarikan fisik itu artinya cinta
  2. Nggak gampang untuk jatuh cinta.
  3. Nggak bisa langsung suka/cinta sama seseorang yang belum dikenal, karena menurut Eddie kita harus tahu kepribadian dan kebiasaannya dulu. Jadi gue selalu hanya suka/cinta sama teman sendiri, hehehe, yah kecuali si orang yang belum dikenal bisa jadi temen dulu untuk beberapa lama, supaya gue bisa memutuskan apakah dia memenuhi syarat apa nggak *berasa princess ajah hahaha*
  4. Nggak pengen jadi perempuan yang tujuan hidupnya hanya baju, karena jika hal2 yang mewah2 seperti ini sudah menguasai pikiran, jiwa akan jadi tumpul, dan pikiran akan gagal berkembang.
  5. Pengen jadi perempuan yang bisa berimbang dengan kemampuan berpikir laki2 supaya jadi partner yang baik untuknya.
  6. Cowok yang sombong, kejam, mau menang sendiri, pemabuk, narkoba, judi adalah harga mati.
  7. Berjuang untuk tetap hidup adalah hal yang terpenting.
  8. Dan tetap berada dalam kondisi tubuh yang fit supaya bisa menikmati hidup adalah yang kedua terpenting.
Lumayan banyak, ya? Hehehe, pantesan gue susah punya pacar! Tapi gue ngerasa worth it, lah. Apalagi pas beberapa tahun kemudian gue nemu pencerahan yang kedua, sebuah paragraf dari bukunya Susanna Tamaro, penulis Spanyol, berjudul Va Dove ti Porta il Cuore, Pergilah Kemana Hati Membawamu, keluaran sekitar tahun 2003-2004an.

It said, “Dalam kehidupan setiap lelaki, hanya ada seorang wanita. Bersama wanita itu dia akan mencapai persatuan yang sempurna. Dalam hidup setiap wanita, hanya ada satu lelaki. Dan bersamanya wanita itu menjadi lengkap. Namun hanya sedikit, sangat sedikit manusia yang ditakdirkan untuk bertemu. Sisanya terpaksa hidup dalam ketidakpuasan, dalam kerinduan abadi. Akan ada berapa banyakkah perjumpaan seperti kita? Satu dalam sepuluh ribu, satu dalam sejuta, atau satu dalam sepuluh juta? Pasti satu dalam sepuluh juta. Pasangan-pasangan sisanya adalah hasil kompromi, ketertarikan dangkal yang bersifat sementara, daya tarik fisik, kemiripan karakter, atau sekedar kebiasaan. Kita ini sangat beruntung, ya kan? Siapa yang tahu ada apa di balik semua ini? Siapa yang tahu?”

Waktu pertama kali baca paragraf ini, gue langsung mikir dan mikir. Ini bener banget. Satu dalam sepuluh juta. Siapa yang nggak pengen? Dan siapa yang pengen jadi pasangan-pasangan sisanya? Ya, siapa sangka jika tak hanya fisik dan kemiripan karakter, tapi ternyata juga kebiasaan dan bahkan kompromi adalah hanya sisa? Oke, itu baru pertanyaan pertama, sementara the big question-nya adalah bagaimana kita tahu bahwa saat bersama seorang pria kita menjadi lengkap atau tidak?

Nah, pertanyaan ini kan sama aja dengan pertanyaan pertama tadi, bagaimana caranya kita tahu bahwa ia seseorang yang tepat. Jadi meski buku kecil Eddie dan satu paragraf Susanna sudah membentuk sedikit demi sedikit proyeksi gue akan seorang pacar, tapi keduanya belum bisa menjawab secara sempurna pertanyaan di atas. Lumayan lama sih hingga akhirnya gue menemukan satu jawaban praktis, yang sesuai logika dan pengalaman gue, mampu menjawab pertanyaan maha penting sedunia itu *norak, ih*

Yang satu ini berupa artikel kecil di tabloid, gue lupa judulnya apaan dan dari tabloid apaan *nggak bisa diandalin banget, yak*. Tapi gue inget inti artikelnya, bahwa ada tiga hal yang harus dijadikan prinsip dan pondasi dalam pernikahan, yaitu keuangan, komunikasi dan keluarga. Bukannya kita harus mencari seorang pria yang stabil dan mapan, tapi apakah prinsip keuangan kita sama dengan si dia. Lalu bagaimana cara kita berkomunikasi. Penting bagi pasangan untuk membuka semua jalur komunikasi yang ada, apa adanya, tanpa menyembunyikan rahasia sekecil apapun, dan dilakukan dalam intensitas yang sering. Jadi masing2 saling tahu kondisi terakhirnya. Dan yang terakhir adalah keluarga, nilai2 keluarga seperti apa yang akan dipegang adalah kesepakatan kedua belah pihak.

Ketiga hal itu juga yang gue cari di Ivan, sebelum gue memutuskan memilih dia *bener2 berasa princess dah, gaya luh! :)*. Pandangan kita sama tentang keuangan: memang sih uang itu hal yang penting, tapi masih ada hal-hal yang lebih penting, dan kita adalah manusia yang hidup di hari ini, meski tetap setuju bahwa esok sangat layak untuk ditunggu-tunggu. Setidaknya kita nggak pelit, nggak boros juga, nggak sok kaya, nggak sok miskin juga hahaha. Believe me, gue mengenal beberapa cowok yang, ya ampun, pelit banget *meski itu untuk bayar ongkos angkot*, pokoknya nggak ada manner-nya bangetlah sebagai cowok. Terus dalam hal komunikasi, kita percaya akan konsep keterbukaan dan intensitas. Sebagai cowok, Ivan bahkan nggak malu mengakui kalau ia menangis untuk hal-hal yang benar2 menyedihkan, meski dia tetap jaga gengsi soal minta maaf, hahaha. Dan soal keluarga, kami percaya keluarga adalah yang terpenting. Sebisa mungkin dalam mengambil keputusan apapun, kepentingan keluarga di atas segalanya.

Oya lupa, ada satu bonus kenapa gue akhirnya memilih Ivan: dia itu kocak banget! Hahaha, lumayanlah untuk mentertawakan hidup yang makin semrawut, ya kan? Dan setelah semua syarat ini terpenuhi, gue cukup yakin untuk menentukan bahwa Ivan memang orang yang tepat. Gilak yak, pede luar biasa. Hihihi. Yah, kami sih berdoa untuk ke depannya, semoga ajalah, dengan bekal tiga pondasi dan satu bonus, kami tetap bisa mengarungi hidup senyaman mungkin, entah itu kondisi dompet milyaran *gayus dunk* maupun cepean hehehe. Amiiin…   

Tapi guys, gue percaya bahwa mestinya artikel itu nambahin satu hal lagi sebagai pondasi penting pernikahan, yaitu soal dekorasi rumah! Ya ampuuun, itu satu hal2 yang bener2 bikin ribut. Hahaha, di Amrik sana bahkan sudah nyampe di tangga ke-4 sebagai penyebab perceraian!

Jomblo Note

Suatu hari gue nyambangin gramed dan nemu buku ini. Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan Dengan Cepat : 100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien. Suami ngetawain aja, ngapain sih gue beli buku gituan. Dia buka buku secara acak dan langsung tambah ngakak nemuin judul2 seperti cara efisien menjual rumah, mendapatkan pinjaman ke bank, memilih pakaian etc. Kayak gitu aja kok mesti baca buku, katanya. Ha-ha-ha. Emang sih aneh n’ maybe mubajir, tapi sebagai pemuja keefisienan, gue ngerasa masih nggak ahli, coz masih aja berkutat soal detail, padahal itu tuh yg bikin kita buang-buang waktu. Jadi apa salahnya sih kita pengen referensi. Gitulah pembelaan gue kira-kira. So anyway, buku itu kebeli dan langsung dibaca. 

HAHAHAHA. Isinya bener2 100 cara efisien untuk 100 masalah dunia. Tapi yah meski awalnya gue ngerasa rugi pas ngebaca judul2nya, iya bener juga suami gue, ngapain juga gue beli buku yang ngajarin tentang urusan ngebersihin rumah, nyetrika, nemuin barang ilang, terus urusan kerjaan kayak meraih sukses, mengarungi samudra informasi, sampe urusan siap2 di pagi hari. Terus ngebahas urusan pikiran juga, gimana cara berkonsentrasi dengan efisien, berpikir cepat, menilai sifat orang sampe memerangi jerawat. HAHAHA. Tapi okelah gue kasi kesempatan lagi sama si buku kecil merah. 

Gue baca dan baca, sampe akhirnya tau2 udah magrib. Wedeeeeeh. Lumayan juga info2nya. Banyak yang belum gue tahu dan banyak lagi yang belum nyampe ke otak gue. Hebat juga si pengarangnya, Samantha Ettus. Jadi ceritanya dia nggak ngajarin orang2 tentang bagaimana menyelesaikan 100 urusan dunia tadi, tapi dia serahin langsung ke pakarnya, ke profesionalnya, orang2 yang emang tiap harinya ngurusin ke-100 hal tersebut. Kayak urusan membeli dan menjual rumah, dia tanya langsung ke raja propertinya. Urusan mencuci pakaian, dia ke ahli perawatan kain. Mengiris sayuran langsung ke koki terkenal. Mempersingkat waktu meeting langsung ke CEO terhebat, mengatasi rasa takut ke psikolog, sampe urusan travelling dia serahin ke orang National Geographic. Great pokokelah. 

Sampel pertama aja, gimana caranya berpikir cepat. Langkah awal adalah mempelajari perilaku manusia, dengan cara mengamati orang2 di sekitar. Dari situ kita bisa nyimpulin bahwa ternyata pola manusia itu bisa diramalin, bisa diantisipasi. Dari situ bisa membantu kita bereaksi lebih cepat. Hehehe. Nggak sombong nih, gue sih lumayan bisa lah untuk berpikir cepat, tapi baru tau ternyata ada ilmunya juga untuk yang ginian. Usefull lagi.   

Nah, sampel kedua adalah alasan kenapa gue bikin notes ini. Hehehe. Buku ini juga ngebahas bagaimana cara efisien mencari jodoh. Hahaha. Emang sih kayaknya absurd karena jodoh kan urusan Tuhan, gimana caranya kita bisa mengefisienkan hal tersebut? Tapi, ternyata isinya lebih bagus dari yang gue duga. Bener2 masuk akal dan sangat mungkin ternyata untuk mengefisienkan hal absurd seperti urusan cinta. Nah, di notes ini gue pengen berbagi buat temen2 jombloners, suer deh, bukannya berniat aneh2, tapi gue bener2 concern sama lo2 semua. Just open your mind, ok and have fun to read it ;D.

Urusan nyari jodoh ini dipakarin Janis Spindel, pendiri Janis Serious Matchmaking yang udah nulis buku macem2 dan udah nyomblangin sekitar 800 perkawinan. Katanya, bayangin aja lo lagi ngejalanin suatu misi. Jadi luangin waktu, perhatian dan pikiran untuk misi ini, sama seperti kalo lo pengen naik jabatan, ngubah karier, atau latihan lomba maraton. Cari jodoh sama aja, tapi lebih penting!

Dia punya 5 panduan dan sebelum ngejalanin semuanya, katanya lo mesti MAU untuk FOKUS, siap menjajaki semua opsi. Kalo lo oke, baca dah! :D

Pertama, nilai diri sendiri. Lo berdiri depan kaca. Lo nilai sendiri penampilan lo. Apa udah yang terbaik? Keliatan sehat dan bugar? Keliatan rapi? Boleh juga mengikuti gaya masa kini, tapi yang penting adalah rapi. Karena penampilan itu penting. Karena ini modal agar dapat bersaing dalam dunia asmara dan menarik jenis orang yang lo pengenin.

Kedua, mesti realistis. Apa sih yang lo harapin dari pasangan hidup? Sesuai nggak dengan gaya hidup dan hakikat diri lo? Susun daftar kualitas yang lo pengenin, jujur ttg apa yang lo pengen cari dan siapa yang kira2 tertarik sama lo. Karena lo nggak akan pernah nemuin orang yang lo cari kalo lo nggak tau siapa yang lo mau cari, kan?

Ketiga, mesti ramah. Pastiin sikap dan bahasa tubuh lo nampilin gaya “siap menikah”. Jadi lo mesti mudah dideketin, terbuka dan ramah. Nyapa lawan jenis. Bersikap nyaman dan percaya diri, keluarin sikap ceria. Dan jangan lupa, lo mesti nampilin situasi yang nunjukin kalo lo “lajang”, bukan nunjukin kalo “lo udah ada yang punya” atau lo cuman pengen “berteman” aja sama dia. Gaul dah pokoknya!

Keempat, mesti proaktif. Maksudnya pake tiap opsi yang ada. Misalnya ikutan semua kegiatan yang memungkinkan untuk ketemu orang lain, seperti klub hobi, acara2 ngumpul atau gabung si situs kencan internet (tapi jangan ngarepin keajaiban, ada yg sukses, ada yg nggak, internet cuman salah satu opsi yang bisa dijajakin), atau kalo mau yang lebih ekstrem ya ikutan ajang cari jodoh (periksa dulu reputasinya). Intinya aktif nyari dimana aja. Who knows, right?

Kelima, jangan buang waktu dalam hubungan yang jalan di tempat. Jangan kencan sama orang yang nggak fokus ke pernikahan. Jangan bertahan hanya karena hubungan itu fun. Omong kosong kalo ada yg bilang perlu waktu lama untuk pacaran, untuk tahu siapa dia. Khususnya untuk lo yang udah nyampe umur tertentu (tiga puluhan) dan udah berkelana di dunia kencan sepuluh tahunan, kayaknya nggak perlu lagi lah pacaran sampe setahunan hanya untuk nentuin apakah dia memang orang yang pas. Mestinya lo udah tau apa yang lo inginkan, dan di saat lo ketemu sama dia,  lo udah tau bahwa lo udah nemuin orangnya. Satu lagi, lebih baik nyingkir kalo liat bendera merah atau tulisan tangan di dinding – artinya kalo si dia nggak niat hubungan serius, atau kalo dia punya masalah keuangan or pekerjaan, atau kalo hati kecil lo ngebisikin bahwa dia bukan orang yg tepat. Just trust your insting. Tentukan kerangka waktu, misalnya dalam waktu 3 bulan lo udah tahu dia layak dijadiin pasangan hidup, ya lo mesti ngebicarain hal itu. Mulai dengan pernyataan seperti ini : “Kita ternyata punya nilai2 yang sama, nih, jadi mau kemana tujuan kita selanjutnya?”

Terakhir, kalo lo udah lamaran, masa tunangan harusnya jangan lebih dari 6 bulan. Atau lebih bagus lagi langsung aja nikah. Ngapain nunggu? Tuntasin misi lo dan jalanin kehidupan bersamanya! Deal? Good luck, brur…. ;D